Kemiskinan dan Kesenjangan
1EB21
1. Adilah Fauziyyah (20215143)
2. Fakhrani Rizki Maulida (27215616)
3. Rezka Herviana Sudibyo (25215857)
A.
Konsep
dan Pengertian Kemiskinan
1. Pengertian
Kemiskinan
Kemiskinan
adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan
merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif
dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan
evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah
mapan,dll.
Menurut Sar A.
Levitan dalam Ala (1981:3) menyatakan kemiskinan adalah kekurangan
barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu
standar hidup layak. Pemikiran mengenai kemiskinan berubah sejalan dengan
berlalunya waktu, tetapi pada dasarnya berkaitan dengan ketidak mampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar (Mikelsen).
Sedangkan
menurut Badan Pusat Statistik dan Departemen Sosial, kemiskinan adalah
ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimum untuk hidup
layak.
Kemiskinan menurut Edi Suharto dalam Abdul Hakim (2002:219)
adalah ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasi basis kekuasaan sosial. Basis
kekuasaan sosial meliputi :
a. Sumber keuangan (mata pencaharian,
kredit, modal)
b. Modal produktif atau asset (tanah,
perumahan, kesehatan, alat produksi)
c. Jaringan sosial untuk memperoleh
pekerjaan, barang, dan jasa.
d. Organisasi sosial dan politik yang
digunakan untuk mencapai kepentingan bersama.
e. Informasi yang berguna untuk
kemajuan hidup.
f. Pengetahuan dan keterampilan.
2. Konsep
Kemiskinan
Kemiskinan
absolut dan kemiskinan relatif adalah konsep kemiskinan yang mengacu pada
kepemilikan materi dikaitkan dengan standar kelayakan hidup seseorang atau
kekeluarga.Kedua istilah itu menunjuk pada perbedaan sosial (social
distinction) yang ada dalam masyarakat berangkat dari distribusi pendapatan.
Perbedaannya
adalah bahwa pada kemiskinan absolut ukurannya sudah terlebih dahulu ditentukan
dengan angka-angka nyata (garis kemiskinan) dan atau indikator atau kriteria
yang digunakan, sementara pada kemiskinan relatif kategori kemiskinan
ditentukan berdasarkan perbandingan relatif tingkat kesejahteraan antar
penduduk.Untuk melihat lebih jauh kondisi kemiskinan yang terjadi di Indonesia
berikut ini ditampilkan tabel perkembangan jumlah penduduk miskin yang terjadi
di daerah perkotaan dan pedesaan beserta persentase penduduk miskin.
B.
Garis
Kemiskinan
Garis kemiskinan
atau batas kemiskinan adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu
dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu negara. Dalam
praktiknya, pemahaman resmi atau umum masyarakat mengenai garis kemiskinan (dan
juga definisi kemiskinan) lebih tinggi di negara maju daripada di negara
berkembang.
Garis kemiskinan
di Indonesia secara luas digunakan pertama kali dikenalkan oleh Sajogyo pada
tahun 1964 yang diukur berdasarkan konsumsi setara beras per tahun. Menurut
Sajogyo terdapat tiga ukuran garis kemiskinan yaitu miskin, sangat miskin dan
melarat yang diukur berdasarkan konsumsi per kapita per tahun setara beras
sebanyak 480 kg, 360 kg dan 270 kg untuk daerah perkotaan dan 320 kg, 240 kg
dan 180 kg untuk daerah pedesaan (Arndt, Pembangunan dan Pemerataan, hal 58,
1987).
BPS menghitung
jumlah dan persentase penduduk miskin (head count index) yaitu penduduk yang
hidup dibawah garis kemiskinan berdasarkan data hasil Survey Sosial Ekonomi
Nasional (Susenas). Garis kemiskinan yang merupakan dasar penghitungan jumlah
penduduk miskin dihitung dengan menggunakan pendekatan kebutuhan dasar (basic
needs approach) yaitu besarnya rupiah yang dibutuhkan untuk dapat memenuhi
kebutuhan dasar minimum makanan dan non makanan atau lebih dikenal dengan garis
kemiskinan makanan dan non makanan.
Pendekatan
ketimpangan tidak berfokus pada pengukuran garis kemiskinan, tetapi pada
besarnya perbedaan antara 20 atau 10 persen masyarakat paling bawah dengan 80
atau 90 persen masyarakat lainnya. Kajian yang berorientasi pada pendekatan
ketimpangan tertuju pada upaya memperkecil perbedaan antara mereka yang berada
dibawah (miskin) dan mereka yang makmur dalam setiap dimensi statifikasi dan
diferensiasi sosial. Ketimpangan merupakan suatu permasalahan yang berbeda
dengan kemiskinan. Dalam hal mengidentifikasi dan menentukan sasaran penduduk
miskin, maka garis kemiskinan relatif cukup untuk digunakan dan perlu
disesuaikan terhadap tingkat pembangunan negara secara keseluruhan.
Garis kemiskinan
relatif tidak dapat dipakai untuk membandingkan tingkat kemiskinan antar negara
dan waktu karena tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan yang sama. World Bank
mengelompokkan penduduk kedalam tiga kelompok sesuai dengan besarnya
pendapatan: 40 persen penduduk dengan pendapatan rendah, 40 persen penduduk
dengan pendapatan menengah dan 20 persen penduduk dengan pendapatan tinggi.
Ketimpangan pendapatan diukur dengan menghitung persentase jumlah pendapatan
penduduk dari kelompok yang berpendapatan 40 persen terendah dibandingkan total
pendapatan seluruh penduduk.
Kategori ketimpangan ditentukan
dengan menggunakan kriteria seperti berikut :
a. Jika
proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 12 persen dikategorikan
ketimpangan pendapatan tinggi
b. Jika
proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah
terhadap total pendapatan seluruh penduduk antara 12-17 persen dikategorikan
ketimpangan pendapatan sedang.
c. Jika
proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah
terhadap total pendapatan seluruh penduduk lebih dari 17 persen dikategorikan
ketimpangan pendapatan rendah.
C.
Penyebab
dan Dampak Kemiskinan
1. Penyebab
Kemiskinan
Secara
umum, penyebab kemiskinan dapat dibagi kedalam empat mazhab (Spicker, 2002), yaitu :
a. Individual
explanation
Mazhab ini
berpendapat bahwa kemiskinan cenderung diakibatkan oleh karakteristik orang
miskin itu sendiri. Karakteristik yang dimaksud seperti malas dan kurang
sungguh-sungguh dalam segala hal, termasuk dalam bekerja. Mereka juga sering
salah dalam memilih, termasuk memilih pekerjaan, memilih jalan hidup, memilih
tempat tinggal, memilih sekolah dan lainnya. Gagal, sebagian orang miskin bukan
karena tidak pernah memiliki kesempatan,
namun ia gagal menjalani dengan baik kesempatan tersebut.
Sebagian lagi pernah memperoleh kesempatan mengikuti
pendidikan yang lebih tinggi, namun gagal menyelesaikannya, drop out dan
akhirnya menjadi miskin. Tidak jarang juga terlihat bahwa seseorang menjadi
miskin karena memiliki cacat bawaan. Dengan keterbatasannya itu ia tidak mampu
bekerja dengan baik, bersaing dengan yang lebih sehat dan memiliki kesempatan
yang lebih sedikit dalam berbagai hal yang dapat menentukankondisi ekonomi
hidupnya.
b. Familial
explanation
Mazhab ini
berpendapat bahwa kemiskinan lebih disebabkan oleh faktor keturunan. Tingkat
pendidikan orang tua yang rendah telah membawa dia kedalam kemiskinan. Akibatnya ia juga tidak mampu memberikan pendidikan yang layak kepada anaknya, sehingga anaknya juga akan jatuh
pada kemiskinan. Demikian secara terus menerus dan turun temurun.
c. Subcultural
explanation
Mazhab ini berpendapat
bahwa kemiskinan dapat disebabkan oleh kultur, kebiasaan, adat-istiadat, atau
akibat karakteristik perilaku lingkungan.
Misalnya, kebiasaan yang bekerja adalah
kaum perempuan, kebiasaan yang
enggan untuk bekerja keras dan menerima
apa adanya, keyakinan bahwa mengabdi kepada para raja atau orang terhormat
meski tidak diberi bayaran dan berakibat pada kemiskinan. Terkadang orang
seperti ini justru tidak merasa miskin karena sudah terbiasa dan memang kulturnya yang membuat demikian.
d. Structural
explanations
Mazhab ini
menganggap bahwa kemiskinan timbul akibat dari ketidakseimbangan, perbedaan
status yang dibuat oleh adat istiadat, kebijakan, dan aturanlain menimbulkan
perbedaan hak untuk bekerja, sekolah dan lainnya hingga menimbulkan kemiskinan
di antara mereka yang statusnya rendah dan
haknya terbatas.
Menurut Nugroho dan
Dahuri (2004), penyebab kemiskinan dapat terjadi karena:
a. Kemiskinan
alamiah dan ekonomi timbul akibat keterbatasan sumber daya alam, manusia, dan
sumberdaya lain sehingga peluang produksi relatif kecil dan tidak dapat
berperan dalam pembangunan.
b. Kemiskinan
struktural dan sosial disebabkan hasil pembangunan yang belum merata, tatanan
kelembagaan dan kebijakan dalam pembangunan.
c. Sedangkan
kemiskinan kultural (budaya) disebabkan sikap atau kebiasaan hidup yang merasa
kecukupan sehingga menjebak seseorang dalam kemiskinan
Kemiskinan tidak hanya terdapat di desa, namun juga di
kota. Kemiskinan
di desa terutama disebabkan oleh faktor-faktor antara lain:
a. Ketidakberdayaan
b. Keterkucilan
c. Kemiskinan
materi
d. Kerentanan
e. Sikap
Selain dari berbagai
pendapat di atas, kemiskinan secara umum disebabkan oleh 2 faktor :
a. Faktor
internal
Adalah faktor yang datang dari
dalam diri orang miskin, seperti sikap yangmenerima apa adanya, tidak
bersungguh-sungguh dalam berusaha, dan kondisi fisik yangkurang sempurna
b. Faktor
eksternal
Adalah faktor yang datang dari luar
diri si miskin,seperti keterkucilan karena akses yang terbatas, kurangnya
lapangan kerja, ketiadaankesempatan, sumberdaya alam yang terbatas, kebijakan
yang tidak berpihak dan lainnya.Sebahagian besar faktor yang menyebabkan orang
miskin adalah faktor eksternal.
2. Dampak akibat kemiskinan
a. Penggangguran
Jumlah pengganguran yang terjadi pada awal tahun 2011
mencapai 8,12 juta orang. Angka penggangguran ini cukup fantatis, mengingat
krisis multidimensional yang sedang dihadapi oleh bangsa saat ini.Banyaknya
penggangguran, berarti mereka tidak bekerja dan otomatis mereka tidak
mendapatkan penghasilan. Dengan tidak bekerja dan tidak mendapatkan
penghasilan, mereka tidak data memenuhi kebutuhan hidupnya.Secara otomatis,
pengangguran menurunkan daya saing dan beli masyarakat.
b. Kekerasan
Kekerasan
yang terjadi biasanya disebabkan karena efek pengangguran.Karena seseorang
tidak mampu lagi mencari nafkah yang benar dan halal.
c. Pendidikan
Mahalnya biaya pendidikan, mengakibatkan masyarakat miskin
tidak dapat menjangkau dunia sekolah atau pendidikan.Akhirnya, kondisi
masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam.Tingginya tingkat putus sekolah
berdampak pada rendahnya tingkat pendidikan seseorang. Ini akan menyebabkan
bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang
menuntut keterampilan di segala bidang.
d. Kesehatan
Biaya
pengobatan yang terjadi pada klinik pengobatan bahkan rumah sakit swasta besar
sangat mahal dan biaya pengobatan tersebut tidak terjangkau oleh kalangan masyarakat
miskin.
e. Konflik social bernuansa SARA
Konflik SARA terjadi karena ketidakpuasan dan kekecewaan
atas kondisi kemiskinan yang semakin hari semakin akut. Hal ini menjadi sebuah
bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. Terlebih lagi fenomena bencana alam
yang sering terjadi di negeri ini, yang berdampak langsung terhadap
meningkatnya angka kemiskinan.semuanya terjadi hamper merata di setiap daerah
di Indonesia, baik di pedesaan maupun diperkotaan.
D.
Pertumbuhan,
Kesenjangan dan Kemiskinan
Data 1970 – 1980
menunjukkan ada korelasi positif antara laju pertumbuhan dan tingkat
kesenjangan ekonomi.Semakin tinggi pertumbuhan PDB/pendapatan perkapita,
semakin besar perbedaan si kaya dengan si miskin.
Penelitian di
Asia Tenggara oleh Ahuja, dkk (1997) menyimpulkan bahwa selama periode 1970an
dan 1980an ketimpangan distribusi pendapatan mulai menurun dan stabil, tapi
sejak awal 1990an ketimpangan meningkat kembali di LDC’s dan DC’s seperti Indonesia, Thaliland,
Inggris dan Swedia.
Deininger dan Squire (1995) dengan data deret waktu
mengenai indeks Gini dari 486 observasi dari 45 LDC’s dan DC’s (tahun
1947-1993) menunjukkan indeks Gini berkorelasi positif antara tahun 1970an
dengan tahun 1980an dan 1990an.
1. Hubungan
antara Pertumbuhan dan Kesenjangan: Hipotesis Kuznets
Data decade
1970an dan 1980an mengenai pertumbuhan ekonomi dan distribusi di banyak Negara
berkembang, terutama Negara-negara dengan proses pembangunan ekonomi yang
tinggi, seperti Indonesia, menunjukkan seakan-akan ada korelasi positif antara
laju pertumbuhan dan tingkat kesenjangan ekonomi, semakin tinggi pertumbuhan
PDB atau semakin besar pendapatan per kapita semakin besar perbedaan antara
kaum miskin dan kaum kaya.
Studi dari
Jantti (1997) dan Mule (1998) memperlihatkan perkembangan ketimpangan
pendapatan antara kaum miskin dan kaum kaya di Swedia, Inggris dan AS, serta
beberapa Negara di Eropa Barat menunjukkan kecenderungan yang meningkat selama
decade 1970an dan 1980an. Janti membuat kesimpulan semakin besar ketimpangan
distribusi pendapatan disebabkan oleh pergeseran demografi, perubahan pasar
buruh dan perubahan kebijakan public.
Dalam perubahan
pasar buruh, membesarnya kesenjangan pendapatan dari kepala keluarga dan
semakin besarnya pendapatan dari istri dalam jumlah pendapatan keluarga
merupakan dua factor penyebab penting. Literature mengenai perubahan
kesenjangan dalam dsitribusi pendapatan awalnya didominasi oleh apa yang
disebuthipotesis Kuznets. Dengan memakai data antar Negara (cross section) dan
data dari sejumlah survey/observasi di tiap Negara (time series),
Simon Kuznets
menemukan relasi antara kesenjangan pendapatan dan tingkat perdapatan per
kapita berbentuk U terbalik. Hasil ini
diinterpretasikan sebagai evolusi dari distribusi pendapatan dalam proses
transisi dari ekonomi pedesaan (rural) ke ekonomi perkotaan (urban) atau
ekonomi industry.
Banyak studi untuk
menguji hipotesis Kuznets dengan hasil:
a.
Sebagian besar mendukung hipotesis
tersebut, tapi sebagian lain menolak
b. Hubungan
positif pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan hanya dalam jangka
panjang dan ada di DC’s
c. Kurva bagian kesenjangan (kiri) lebih
tidak stabil daripada porsi kesenjangan menurun sebelah kanan.
Anand dan Kanbur (1993) mengkritik hasil studi
Ahluwalia (1976) yang mendukung hipotesis Kuznets. Keduanya menolak hipotesis
Kuznets dan menyatakan bahwa distribusi pendapatan tidak dapat dibandingkan
antar Negara, karena konsep pendapatan, unit populasi dan cakupan survey
berbeda.
2. Hubungan
antara Pertumbuhan dan Kemiskinan
Dasar teori dari
korelasi antara pertumbuhan dan kemiskinan tidak berbeda dengan kasus
pertumbuhan dengan ketimpangan, seperti yang telah dibahas di atas. Mengikuti hipotesis Kuznets, pada tahap awal
proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat, dan saat mendekati
tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur berkurang.
Namun banyak
factor lain selain pertumbuhan yang juga mempunyai pengaruh besar terhadap
tingkat kemiskinan di suatu wilayah/Negara seperti struktur pendidikan tenaga
kerja dan struktur ekonomi.
Faktor yang berpengaruh
pada tingkat kemiskinan :
a. Pertumbuhan
b. Tingkat
pendidikan
c. Struktur
ekonomi
E.
Beberapa
Indikator Kesenjangan dan Kemiskinan
1. Indikator
– indikator kemiskinan yang dikutip dari Badan Pusat Statistik
a. Ketidakmampuan
memenuhi kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan ).
b. Tidak
adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehaatan, pendidikan,
sanitasi, air bersih dan transportasi).
c. Tidak
adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
d. Kerentangan
terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
e. Rendahnya
kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
f. Kuranganya
apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
g. Tidak
adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
h. Ketidakmampuan
untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
i. Ketidakmampuan
dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan
rumah tangga,janda miskin,kelompok marginal dan terpencil).
2. Indikator
- indikator Kesenjangan dari segi Pendapatan
a. UMR
yang ditentukan pemerintah antara pegawai swasta dan pegawai Pemerintah yang
berbeda.
b. PNS
(golongan atas) lebih sejahtera dibandingkan petani.
c. Pertanian
kalah jauh dalam menyuplai Produk Domestik Bruto ( PDB ) yang hanya sekitar 9.3
% di tahun 2011, padahal Indonesia merupakan Negara agraris.
3. Indikator
kesenjangan dan kemiskinan dalam perhitungan :
a. Indikator
Kesenjangan
Ada sejumlah
cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang dibagi
ke dalam dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan stochastic dominance.
Yang sering digunakan dalam literatur adalah dari kelompok pendekatan pertama
dengan tiga alat ukur, yaitu the generalized entropy (GE), ukuran atkinson, dan
koefisien gini.
Yang paling
sering dipakai adalah koefisien gini.Nilai koefisien gini berada pada selang 0
sampai dengan 1. Bila 0 : kemerataan sempurna (setiap orang mendapat porsi yang
sama dari pendapatan) dan bila 1 : ketidakmerataan yang sempurna dalam
pembagian pendapatan.
Ide dasar dari perhitungan koefisien gini berasal dari
kurva lorenz. Semakin tinggi nilai rasio gini, yakni mendekati 1 atau semakin
jauh kurva lorenz dari garis 45 derajat tersebut, semakin besar tingkat ketidakmerataan
distribusi pendapatan.
b.
Indikator
Kemiskinan
Batas garis kemiskinan yang digunakan setiap negara
ternyata berbeda-beda.Ini disebabkan karena adanya perbedaan lokasi dan standar
kebutuhan hidup.Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas miskin dari
besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan
minimum makanan dan bukan makanan (BPS, 1994). Untuk kebutuhan minimum makanan
digunakan patokan 2.100 kalori per hari.Sedangkan pengeluaran kebutuhan minimum
bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan, sandang, serta aneka barang
dan jasa.
Dengan kata
lain, BPS menggunakan 2 macam pendekatan, yaitu pendekatan kebutuhan dasar
(basic needs approach) dan pendekatan Head Count Index. Pendekatan yang pertama
merupakan pendekatan yang sering digunakan.Dalam metode BPS, kemiskinan
dikonseptualisasikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan
dasar.Sedangkan Head Count Index merupakan ukuran yang menggunakan kemiskinan
absolut.Jumlah penduduk miskin adalah jumlah penduduk yang berada di bawah
batas yang disebut garis kemiskinan, yang merupakan nilai rupiah dari kebutuhan
minimum makanan dan non makanan.Dengan demikian, garis kemiskinan terdiri dari
2 komponen, yaitu garis kemiskinan makanan (food line) dan garis kemiskinan non
makanan (non food line).
Untuk mengukur kemiskinan terdapat
3 indikator yang diperkenalkan oleh Foster dkk (1984) yang sering digunakan
dalam banyak studi empiris.
1) The
incidence of proverty
Presentase dari populasi yang hidup
di dalam keluarga dengan pengeluaran konsumsi perkapita dibawah garis
kemiskinan, indeksnya sering disebut rasio H.
2)
The dept of property
Yang
menggambarkan dalamnya kemiskinan disuatu wilayah yang diukur dengan indeks
jarak kemiskinan (IJK), atau dikenal dengan sebutan proverty gap index. Indeks
ini mengestimasi jarak/perbedaan rata-rata pendapatan orang miskin dari garis
kemiskinan sebagai suatu proporsi dari garis tersebut.
F. Faktor-Faktor
Penyebab Kemiskinan
Menurut
Todaro (1997) menyatakan bahwa variasi kemiskinan dinegara berkembang disebabkan
oleh beberapa faktor, yaitu :
1.
Perbedaan
geografis, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan
2. Perbedaan
sejarah, sebagian dijajah oleh Negara yang berlainan
3. Perbedaan
kekayaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusianya
4. Perbedaan
peranan sektor swasta dan Negara
5. Perbedaan struktur industri
6.
Perbedaan
derajat ketergantungan pada kekuatan ekonomi dan politik negara lain
7. Perbedaan
pembagian kekuasaan, struktur politik dan kelembagaan dalam negeri.
Menurut Studi empiris Pusat Penelitian Sosial
Ekonomi Departemen Pertanian (1995) yang dilakukan pada tujuh belas propinsi di
Indonesia, menyimpulkan bahwa ada enam faktor utama penyebab kemiskinan, yaitu :
1. Rendahnya
kualitas sumber daya manusia, hal ini ditunjukkan dengan rendahnya tingkat
pendidikan, tingginya angka ketergantungan, rendahnya tingkat kesehatan,
kurangnya pekerjaan alternatif, rendahnya etos kerja, rendahnya keterampilan
dan besarnya jumlah anggota keluarga.
2. Rendahnya
sumber daya fisik, hal ini ditunjukkan oleh rendahnya kualitas dan aset
produksi serta modal kerja.
3. Rendahnya
penerapan teknologi, ditandai oleh rendahnya penggunaan input mekanisasi
pertanian.
4. Rendahnya
potensi wilayah yang ditandai dengan oleh rendahnya potensi fisik dan
infrastruktur wilayah.
5. Kurang
tepatnya kebijaksanaan yang dikukan oleh pemerintah dalam investasi dalam
rangka pengentasan kemiskinan.
6. Kurangnya
peranan kelembagaan yang ada.
Menurut Ginanjar (1996)
ada 4 faktor penyebab kemiskinan, antara lain :
1. Rendahnya
taraf pendidikan
2. Rendahnya
taraf kesehatan.
3. Terbatasnya
lapangan kerja.
4. Kondisi
keterisolasian.
Faktor
Penyebab Kemiskinan menurut Bank Dunia :
1. Kegagalan
kepemilikan terutama tanah dan modal
2. Terbatasnya
ketersediaan bahan kebutuhan dasar dan prasarana
3. Kebijakan
pembangunan yang bias perkotaan dan bias sector
4. Adanya
perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat dan sistem yang kurang
mendukung.
5. Adanya
perbedaan sumber daya manusia dan perbedaan antara sektor ekonomi (ekonomi
tradisional versus ekonomi modern)
6. Rendahnya
produktivitas dan tingkat pembentukan
modal dalam masyarakat.
7. Budaya
hidup yang dikaitkan dengan kemampuan seseorang mengelolah sumber daya alam dan
lingkungannya.
8. Tidak
adanya tata pemerintah yang bersih dan baik (good governance)
9. Pengelolaan
sumber daya alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkunagan
G.
Kebijakan
anti Kemiskinan
Banyak kebijakan yang dilakukan
oleh pemerintah untuk dapat mengatasi berbagai macam masalah kemiskinan, antara
lain adalah sebagai berikut :
1. Kebijaksanaan
tidak langsung
Kebijaksanaan tidak langsung
diarahkan pada penciptaan kondisi yang menjamin kelangsungan setiap upaya
penanggulangan kemiskinan. Kondisi yang dimaksudkan antara lain adalah suasana
sosial politik yang tentram, ekonomi yang stabil dan budaya yang berkembang.
2. Kebijaksanaan
langsung
Kebijaksanaan langsung diarahkan
kepada peningkatan peran serta dan produktifitas sumber daya manusia ,khususnya
golongan masyarakat berpendapatan rendah. Melalui penyediaan kebutuhan dasar
seperti sandang,pangan dan papan, kesehatan dan pendidikan, serta pengembangan
kegiatan – kegiaatan sosial ekonomi yang berkelanjutan untuk mendorong
kemandirian golongan masyarakat yang berpendapatan rendah.
Kebijakan pemerintah untuk pengentasan
kemiskinan sudah terealisasi dengan
mengucurkan dana APBN 2014 senilai Rp. 47,2 Triliun. Beberapa program yang
dibuat pemerintah untuk pegentasan kemiskinan seperti :
a. OPK
(operasi pasar khusus)
b. Raskin
(Beras Miskin)
c. JPS-BK
(Jaringan Pengamanan Sosial Bidang Kesehatan)
d. PKSPS-BBM
(Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM)
e. ASKESKIN
f. JAMKESMAS
g. JPS-DBO
(Jaringan Pengaman Sosial Bidang Pendidikan dan Dana Bantuan Operasional)
h. BKM
(Badan Keswadayaan Masyarakat)
i. BSM
(Bantuan Siswa Miskin)
j. BOS
(Bantuan Opersional Sekolah)
k. BLT
(Bantuan Langsung Tunai)
l. KUR
(kredit Usaha Rakyat)
m. PNPM
(Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat)
Kebijakan anti kemiskinan dan distribusi pendapatan
mulai muncul sebagai salah satu kebijakan yang sangat penting dari
lembaga-lembaga dunia, seperti Bank Dunia, ADB,ILO, UNDP, dan lain sebagainya.
Tahun 1990, Bank Dunia lewat laporannya World
Developent Report on Proverty mendeklarasikan bahwa suatu peperangan yang
berhasil melawan kemiskinan perlu dilakukan secara serentak pada tiga front :
a. Pertumbuhan
ekonomi yang luas dan padat karya yang menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan
bagi kelompok miskin
b. Pengembangan
SDM (pendidikan, kesehatan, dan gizi), yang memberi mereka kemampuan yang lebih
baik untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan oleh pertumbuhan
ekonomi
c. Membuat
suatu jaringan pengaman sosial untuk mereka yang diantara penduduk miskin yang
sama sekali tidak mampu untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan dari
pertumbuhan ekonomi dan perkembangan SDM akibat ketidakmampuan fisik dan mental,
bencana alam, konflik sosial, dan terisolasi secara fisik.
Untuk mendukung strategi yang tepat dalam memerangi
kemiskinan diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan
sasaran atau tujuan perantaranya dapat dibagi menurut waktu, yaitu :
1.
Intervensi jangka pendek, berupa :
a. Pembangunan/penguatan
sektor usaha
b. Kerjsama
regional
c. Manajemen
pengeluaran pemerintah (APBN) dan administrasi
d. Desentralisasi
e. Pendidikan
dan kesehatan
f. Penyediaan
air bersih dan pembangunan perkotaan
g. Pembagian
tanah pertanian yang merata
h. Pembangunan
sektor pertanian, usaha kecil, dan ekonomi pedesaan
i. Manajemen
lingkungan dan SDA
j.
Pembangunan
transportasi, komunikasi, energi dan keuangan
k. Peningkatan
keikutsertaan masyarakat sepenuhnya dalam pembangunan
l. Peningkatan
proteksi sosial (termasuk pembangunan sistem jaminan sosial)
DAFTAR
PUSTAKA
Syamsyuri. 2009. Konsep kemiskinan
Todaro,
Michael P. 2002. Pembangunan ekonomi edisi kesembilan. Jakarta:
Erlangga
Perpustakaan online.2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar